Showing posts with label Sanggar Puisi. Show all posts
Showing posts with label Sanggar Puisi. Show all posts

Sebuah kerinduan

Syahdu bulan menanti sang pungguk
memanggil kasih jauh terpuruk
rindunya alang kepalang
mabuk kasih buah kepayang
bermukim di hati setasik kasih
rasa disemai rindu ditagih.

Duri-duri kerinduan tajam menikam jemari
sakitnya bisa meresap ke ulu hati
lukanya berdarah sepurnama sembuh
setia cinta penawar ampuh
hati yang kehausan kasihmu
menunggu pelangi senja datang bertamu.

Aku tewas
dipupuk angin malas
aku musnah
jiwaku menjadi lelah
dalam lautan kerinduan
padamu duhai rupawan.

Merindu pada yang sudi
berkasih pada yang menanti
hati merawan menanti detik
mekar kembang menjadi putik
terzahirnya yang tersirat
dalam seribu bayangan makrifat.

Damai


Kemilau mentari pagimenyapa lembut jiwa si anak pipit
mencicip bunyian irama memohon dari si ibu
sesuap rezeki untuk terus menikmati sang mentari.

Angin semilir berbisik kalimah cinta tanpa penghujung
menjamah lembut wajah si anak kecil baru menjalar
segar terpinggir di celah rimbunan
menjemput dedaunan berguguran tak berarah
ke destinasi penghujung kehidupan.

Desiran ombak mencipta bunyian indah
berlagu dalam kencangnya degup jantung si anak penyu
tenggelam dalam muara merabung
menghambat buih-buih mencari erti sebuah kehidupan.

Gemersik alunan hujan damai membasahkan
hujung ketandusan permaidani menghampar bumi
menghijau kembali sesegar menatap sang puteri
riang menikmati titisan-titisan ujung garisan usia.

Biru warnanya langit terbentang luas tanpa sempadan
bertemankan awan berarak
setianya memayung isi bumi
taman permainan si unggas berterbangan.

Mentari, angin, ombak, hujan dan langit
bersatu terciptalah panorama damai.

Mengerti

Aku yang tidak mengerti
orang mudik ke kanan aku ke kiri
orang berjalan ke hadapan aku undur ke belakang
orang sudah ada wawasan
aku masih terkebil-kebil di hujung kewarasan.

Aku yang tidak mengerti
orang berpuisi aku pun ingin berpuisi
puisi orang penuh terisi makna dan sukar dimengerti
puisiku separuh kosong tiada bererti

Aku yang tidak mengerti
orang melihat dengan mata hati
aku melihat dengan sepasang kaki
apa sudah jadi?

Aku yang tidak mengerti
orang semakin jauh berlari
lari dari keperitan memaku sendi
aku semakin mendekati
apa makna semua ini?

Aku yang tidak mengerti
susah untuk difahami
bercakap dengan bahasa sendiri
tidak perlu berbasa-basi
anda mengerti?

Sampai sudah aku takkan memahami
jika bergerak dengan dunia sendiri
terusan hanyut di zon menyendiri
tanpa mengenal sempadan bumi

Puisiku hilang!

Puas sudah aku mencari
degilnya ia tetap besembunyi
jauh ke dalam kotak fikiran
dari hari membawa minggu masih tak ketemu
mana puisiku?

Ada sesiapa ternampak?
Atau ia sudah jauh tercampak
hanyut di sungai ingatan
atau lemas dibawa gelombang kesibukan.

Datanglah kasih datanglah intan
tanpamu aku ibarat sang penunggu
dalam gelap dan kesamaran waktu.

Puisi, Oh, Puisi!
Lekaslah pulang
aku merindu dan menunggu
hadirmu dulu melontar fikiran tajam
dalam bait indah penuh sindiran

Kembalilah sayang
aku menanti kehadiranmu...

Doa untuk ayah (Dedikasi buat arwah ayah yang tercinta)

Malam 24 Julai 2006 hatiku bagai terpanah petir maha dasyat
berita dikhabar bisa merobek ketenangan kolam hati
ayahku pergi tanpa sempat aku di sisi.

Tanpa ku pinta air mata jatuh berguguran
apalah daya si anak dari kejauhan
hanya Al-Fatihah dan doa ku titipkan
moga roh ayah selamat bersemadi disisi para As-Sollihin.

Maafkan aku ayah
anakmu ini belum sempat membalas jasamu
seribu keringatmu mengalir
membesarkan kami tanpa jemu
belum pun satu terbalas olehku.

Air mataku terus mengalir laju
hibanya hati mengenang kembali
janji seorang anak belum sempat ku tunaikan.

Pelayaran waktu


Dalam pelayaran waktu sering aku menyongsang angin, menongkah arus
tegak berdiri demi prinsip kebenaran
walau dibadai ribut kezaliman
takkan tumbang rukun lima terpaku di pusat pegangan.

Enam pasak ku jadikan zirah
penangkis segala keegoan dan dugaan
makhluk bongkak pembisik godaan
tak mahu ku tewas tenggelam dalam nafsu
berjuang rohku, berjihadlah, beristiqomahlah.

Dirikanlah pilar menegak syiar Ad-din
dindinglah tembok hati penangkis riak
bangunkanlah wahyu dan sunnah nabimu
usah biarkan ia terus layu ditelan waktu.

Suburkanlah cahaya kebenaran
hapuskanlah gelita kebatilan.

Keliru

Siapa kamu? Kamu adalah aku
yang mengalir dalam uratmu
bersatu dalam darah pekat merah
menyelit nafas dan zat.

Siapa kamu?
Kamu adalah dia
yang penuh dalam kosong
yang gelap dalam sinar
yang tidur dalam jaga
yang mati dalam hidup.

Siapakah kamu?
Kamu adalah mereka
masih terkeliru dibuai mimpi dusta
ingin menarah gunung kesedaran
tercarik sejarah kewarasan.

 
 
 

Jan 2008

Aku hanya di sini

Aku hanya di sini
menanti dan terus menanti
saat hidup antara mati.

Sedang aku hanya di sini
hanya menjadi saksi
manusia mengejar duniawi
lupa janji Illahi
lupa Ukhrawi.

Aku masih di sini
tidak berjalan tidak berlari
lemah mengheret kaki
mencari erti alam hakiki.

Aku terus di sini
menjadi pemerhati
masih tidak mengerti
sampai bila insan akan terus begini?




21 Julai 2007 jam 12 tengah hari di bawah terik mentari
Kulaijaya

Rebah

Dia hanya seorang insan
yang pernah tersungkur di pintu kehidupan
tersimpang dari akal kewarasan
terbujur lesu di lembah kegelapan.

Terdampar tubuh yang hampir kaku
mulut berbusa semburan air tuak bertamu
segenap inci udara dalam dada bersatu
menakung sisa-sisa keimanan tipis kian layu
tenggelam dalam bayangan bernoda seribu
racun dan debu dosa tergumpal bersekutu.

Dia yang rebah
tewas meniti arus deras nafsu serakah
salah percaturan tersilap langkah
sekali terpana empangan iman termusnah.


Followers